(Waktu Ketika Libur Menjadi Ibadah)
Tidak semua wakaf berbentuk tanah dan bangunan. Tidak semua amal menunggu seseorang kaya. Ada wakaf yang paling dekat dengan hidup kita, paling sering kita abaikan, tetapi paling jujur nilainya: wakaf waktu.
Libur semester biasanya sepuluh hari. Jika dihitung, ia setara dengan sekitar 240 jam. Angka yang besar. Sayangnya, sering kali habis begitu saja, larut dalam tidur panjang, Hp atau gawe tak pernah kenyang, dan rencana-rencana yang selesai hanya di kepala.
Padahal, dari 240 jam itu, kita tidak diminta banyak. Cukup enam jam.
Enam jam yang kita wakafkan bersama untuk membersihkan minimal dua masjid di kampung-kampung. Satu masjid tiga jam. Menyapu lantai, membersihkan karpet, merapikan tempat wudu, menata halaman. Pekerjaan sederhana, nyaris tanpa sorotan. Tapi justru di situlah letak pendidikannya.
Selama ini, wakaf sering kita pahami sebagai urusan harta. Tanah yang diikrarkan, bangunan yang diserahkan, atau uang yang dicatat dalam akta. Semua itu mulia. _Namun ada wakaf yang tidak kalah mulia, mewakafkan tenaga beberapa jam dalam sehari, beberapa jam dalam sebulan, atau beberapa jam dalam satu semester._
- Waktu adalah harta yang tidak bisa diwariskan.
- Tenaga adalah nikmat yang pelan-pelan akan menua.
Maka ketika keduanya kita wakafkan, sejatinya kita sedang menyerahkan sepotong kehidupan.
Tiga jam membersihkan masjid mungkin tampak kecil di mata manusia. Tetapi dalam logika keikhlasan, amal tidak diukur dari lamanya, melainkan dari kesediaannya. Dari kerelaan menunda kenyamanan pribadi demi kebermanfaatan bersama.
Di masjid yang kita bersihkan itu, mungkin kita tidak dikenal. Tidak ada plang nama. Tidak ada foto kenangan. Tetapi lantai yang bersih akan menjadi saksi. Karpet yang rapi akan ikut mendoakan. Dan lebih dari itu, jiwa kita sedang dilatih untuk tunduk dan melayani.
Wakaf waktu mengajarkan bahwa ibadah tidak selalu berdiri tegak di saf terdepan. Kadang ia membungkuk, memegang sapu, mengangkat ember, dan berkeringat dalam diam. Justru dalam diam itulah, hati belajar jujur pada niatnya.
Libur semester pun berubah makna. Ia tidak lagi sekadar jeda dari pelajaran, tetapi ruang latihan kesadaran. Bahwa hidup bukan hanya tentang mengisi waktu untuk diri sendiri, tetapi tentang menyisihkan sebagian kecilnya untuk Allah dan umat.
Dari 240 jam, enam jam kita wakafkan. Sisanya tetap milik kita. Namun enam jam itu bisa menjadi penentu, apakah libur kita hanya berlalu, atau benar-benar bernilai.
Sebab pada akhirnya, yang akan ditanya bukan hanya apa yang kita punya, tetapi ke mana waktu kita pergi.
