Acara Peringatan Isra' Dan Mi'raj di Pondok Pesanteren Nurul Haramain sabtu, 18 Februari 2023, Dengan Penceramah Ustad Taisiar M.H.I
Kisah perjalanan Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW,
diriwayatkan oleh Anas Ibn Malik dalam Musnad Ahmad:
اللَّهُمَّ
بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Ya Allah,
semoga Engkau memberkahi kami pada bulan Rajab dan Sya’ban, semoga Engkau
pertemukan kami dengan bulan Ramadlan.”
firman Allah SWT
dalam surat al Isra’ ayat 1:
Artinya: “ Maha-Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada
suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsho yang telah Kami berkahi
sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”
(QS.Al Isra : 1).
Sebagaimana kisah perjalanan peristiwa isra’ dan mi’raj Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha Palestina. Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratil Muntaha untuk menghadap Allah SWT Sang Pencipta alam semesta.
Allah SWT memerintahkan Nabi untuk melaksanakan shalat fardhu sebanyak lima puluh rakaat setiap hari. Nabi menerima dan kemudian kembali pulang, dalam perjalanan, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Musa AS, Nabi Musa mengingatkan bahwa umat Nabi Muhammad tidak akan mampu dengan perintah shalat lima puluh kali sehari, Nabi Musa mengatakan, umatku telah membuktikannya. Lalu meminta kepada Nabi Muhammad untuk kembali pada Allah SWT, mohonlah keringanan untuk umatmu. Kemudian Nabi menghadap kepada Allah dan diringankan menjadi shalat sepuluh kali. kemudian Nabi Muhammad kembali kepada Nabi Musa, dan Nabi Musa mengingatkan bahwa umat mu tidak akan mampu. Kembali Nabi menghadap Allah hingga beberapa kali, dan akhirnya Allah mewajibkan shalat lima waktu. Nabi Muhammad kembali pada Nabi Musa dan Nabi musa tetap mengatakan bahwa umatmu tidak akan kuat wahai Nabi Muhammad, Nabi Muhammad menjawab, saya malu untuk kembali menghadap pada Allah SWT. Saya ridho dan pasrah kepada Allah SWT.
Isra’ dan Mi’raj adalah perkara haq karena sangat jelas dan disebutkan dalam Al-Qur’an, sebuah kejadian yang pasti terjadi, tak ada keraguan sama sekali, meskipun akal manusia tidak dapat menjangkau. Semua hal aneh ini terjadi dalam rangka menguji dan mengukur ketebalan iman seseorang, sebab seseorang dapat tersesat ketika hanya mengukur sebuah kebenaran hanya bersandar pada akal semata. Jadi sebelum Nabi Muhammad SAW menghadap Allah SWT (mi’raj), beliau dibelah dadanya, dibersihkan hatinya meskipun hati Nabi sebenarnya sudah pasti bersih karena beliau ma’shum (suci dari dosa). Pembersiahan hati ini dilakukan sebelum Rasulullah SAW menerima tugas shalat lima waktu. Ini juga pelajaran bagi kita, bahwa saat akan menghadap Allah SWT hendaknya lebih dahulu kita bersihkan hati kita masing-masing. Karenanya, apabila kita shalat harus dimulai dari pakaian, tempat dan hati yang suci, khusyu kepada Allah SWT.
Semoga kita menjadi hamba-hamba mendapatkan pahala serta keberkahan dari Allah SWT.
Aamiin - Aamiin ya rabbal ‘alamiin.
