Jangan terlalu percaya sehingga malas dan jangan mushrik/setengah.
Banyak orang yang mengenal pondok dari kiprah Alumninya, dari kiprah pimpinannya ditengahtengah masyarakat. Alumninya bisa berbahasa arab, inggris, ada yang bisa melanjuntukan keluar negri,ada yang jadi polisi, PNS/ASN, dll. Tidak sedikit Pimpinan pondok mendapatkan penghargaan tingkat
nasional bahkan internasional, dari Kalpataru, Tokoh Perubahan Republika, Ma'arif Word, sampai Ramon Magsasae, Alhamdulillah, Pendek kata itu semua patut disyukuri.
Dengan adanya hasil didikan Nurul Haramain dan penghargaan-penghargaan pimpinannya,
sehingga para pemuda ingin mengikuti jejak kakak-kakaknya dan pimpinan pondoknya. Itu baik tapi
jangan terlalu percaya kepada pondok, sehingga mengira asal masuk Nurul Haramain, pasti akan
menjadi alim, pandai, trampil, saleh dan lain-lain.
Pondok Nurul Haramain bukan tukang sulap, bukan tukang sihir yang bisa memandaikan
seseorang tidak sewajarnya.
Pondok Nurul Haramain adalah tempat pendidikan, siapa malas akan tetap bodoh, siapa rajin
ilmunya bertambah, hal ini selalu dianjurkan oleh Pondok MAN JADDA WAJADA.( َمنَجدوجد )
Disamping kesungguhan juga disiplin harus dijalankan, yang nggak mau berdisiplin berarti tidak
mau dibina, tidak mau dididik, jadi jangan langsung percaya kalau sudah masuk ke pondok langsung bisa
pandai. Maka apa yang ada di pondok dan aturan-aturan/disiplin harus sepenuh hati diikuti, diinsafi,
dilakukan, semakin banyak yang kamu insafi dan kamu ikuti, maka semakin banyak pula ilmu yang akan kau dapat sebesar keinsafanmu sebesar itu pula keberuntunganmu.
Sebaliknya jangan terlalu percaya sehingga musyrik artinya setengah-setengah atau menduakan
hatinya.
Datang ke Haramain tidak sepenuh hati, masih membandingkan dengan yang lain, sehingga
selalu menghayal (bagaimana kalau saya berhenti, bagaimana kalau saya pindah, bagaimana....
Bagaimana...) akhirnya orang yang musyrik seperti itu tidak mendapatkan ketenangan dalam belajar,
dalam menjalankan disiplin dan dalam mengikuti kegiatan-kegiatan pondok. Dan akhirnya seperti pepatah *Sikucapang Sikucapih: yang dikejar tidak dapat, yang dikandung bercerai-berai. Tidak sana juga tidak sini* *Arang Habis, Besi Binasa*
Maka dari itu, kalau hati setengah-tengah, bolehlah/bisiklah tinggalkan pondok. Pintu pondok
masih tetap terbuka, siapa suka boleh ikut, dan sebaliknya siapa yang tidak suka boleh turun. Tapi siapa
yang kuat kepercayaannya, ikutilah kami, insya Allah akan dapat kami bawa ke pulau idaman.
Akhirnya, harapan kami, mudah-mudahan anak-anakku dapat mengikuti dengan sepenuh hati,
dengan penuh kepercayaan. Paling tidak coba-cobalah, tetapi dengan percoban yang sempurna pula.
Jangan badannya di pondok tapi otaknya di rumah, badannya di pondok tapi otaknya di sekolah lain.
( أدخلوا فى المعهد كافه ) Masuklah pondok dengan sepenuh hati.
Coba setahun, kalau nggak krasan, coba dua tahun, kalau masih nggak krasan coba tiga tahun,
dan seterusnya. Kalau tetap tidak krasan 3 tahun sampai 6 tahun dan sudah tamat, bolehlah kalian
pulang dan berjuang di rumah/masyarakat, ini namanya percobaan yang lengkap.