KEPONDOKAN 6

PANCA JIWA

Kehidupan di Pondok dijiwai oleh suasana-suasana yang kita sebut dengan istilah PANCA JIWA.

1. Keikhlasan
    Dalam falsafa jawa disebut sepi ing pamrih (tidak karena didorong untuk memperoleh
keuntungan-keuntungan tertentu)
semata-mata untuk ibadah, hal ini mencakup semua suasana
kegiatan yang ada di pondok, Tuan Guru, guru, ikhlas mengajar, santri ikhlas belajar, walisantri
ikhlas menyerahkan anaknya untuk dididik.

    Segala gerak dan langkah Pondok berjalan dalam suasana keikhlasan yang mendalam. Maka
akan terjadi suasana yang harmonis antara
Tuan Guru dan guru yang disegani dan santri yang
penuh cinta serta hormat dengan segala keikhlasan
. Dengan harapan setiap santri mengerti dan
menyadari arti
lillah, arti beramal, arti Taqwa, dan arti Ikhlas.

2. Jiwa Kesederhanaan
    Kehidupan dalam pondok diliputi suasana kesederhanaan. Sederhana bukan berarti
passif(nrimo=bahasa jawa) dan juga bukan berarti kemelaratan atau kemiskinan. Akan tetapi
sederhana itu mengandung unsur kekuatan, ketabahan hati, penguasaan diri dalam
menghadapi perjuangan hidup dengan segala kesulitannya
.

    Maka dibalik kesederhanaan itu terpancar jiwa besar,
berani maju terus dalam menghadapi
perjuangan hidup dan
pantang mundur dalam segala keadaan, disinilah terbentuk mental/karakter
yang kuat yang menjadi syarat bagi suksesnya perjuangan dalam segala segi kehidupan

Berani hidup tak takut mati takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja.

3. Jiwa Berdikari. (berdiri di atas kaki sendiri)
    Berdikari ini adalah senjata hidup yang ampuh. Bukan hanya santri yang dilatih untuk
mampuh mengurus segala kepentingannya sendiri, tetapi juga Pondok itu sendiri sebagai lembaga
pendidikan tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan dan belas kasihan orang lain.
Pondok juga tidak bersikap kaku sehingga menolak orang-orang yang mau membantu.

    Kata TGH Hasanai Juani
"Kita berhasil bukan karena dibantu, kita dibantu karena
berhasil. Kita tidak mencari-cari bantuan, tapi kita tidak menolok jika dibantu
.

4. Ukhuwah Islamiyah
    Persaudaran salah satu ruh kehidupan di pondok, sehingga segala kesenangan dirasakan
bersama dengan jalinan perasaan keagamaan.
Antara guru dengan guru, guru dengan santri,
santri dengan santri harus dipertemukan hatinya, harus dipersaudarakan
. Jika suasana
persaudaraan itu tumbuh, maka rasa iri hati, rasa saling mempersalahkan, atau konflik-konflik kecil,
masalah kecil sampai yang besar bisar terselesaikan dengan mudah, akan tumbuh rahman dan rahim
diantara penghuni pondok.

    Ingat apa yang dikatakan pimpinan pondok didepan setiap tamu yang datang "Ahlan
wasahla”
. Ahlan
itu saudara, Sahlan itu mudah. Jika sudah merasa bersaudara maka semuanya
menjadi mudah. Nabi Muhammad pun ketika hijrah ke madinah maka yang dikerjakan pertama
kalinya adalah mempersaudarakan antara kaum muhajirin dan kaum Anshor. Begitu juga ketika
TGH
Djuaini mukhtar pendiri pondok dan TGH Afifuddin Adnan sebelum dikirim ke Narmada oleh
maulana Syeh, beliau berdua dipersaudarakan oleh beliau (Maulana syeh).
Sehingga beliau
mudah seiring sejalan dalam menjalankan tugas dari Maulana Syeh Almarhum untuk menyebarkan
Islam di tengah-tengah waktu telu di wilayah Narmada dan sekitarnya hinga Lombok Barat dan KLU
pada umumnya

5. Jiwa Bebas
    Bebas dalam berfikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depannya, dalam memilih
jalan hidup dalam masyarakat kelak bagi para santri. Kebebasan ini bukan bebas dengan arti luas,
selama kebebasan itu tidak melanggar aturan agama, tidak melanggar norma-norma di pondok
ataupun masyarakat, tidak melanggar aturan yang ada dan tidak melanggar sunnah-sunnah pondok
selama ada dalam pondok, dan sudah pasti tidak melanggar dan mengganggu kebebasan orang lain.

Posting Komentar

Formulir Kontak