Roḥah yang Menguji Amanah Cinta
Untuk para wali santri Nurul Haramain yang kami muliakan,
Tulisan ini kami kirim bukan sekadar pengantar liburan, melainkan titipan rasa dari pondok kepada rumah. Bukan untuk dibaca tergesa-gesa,
tetapi untuk direnungi
saat menunggu anak pulang, atau ketika menyiapkan kamar yang lama kosong.
Sebentar lagi anak-anak kita kembali. Pondok akan sepi. Sajadah-sajadah kehilangan langkah kecil yang biasa datang sebelum azan. Dan kami, para guru, belajar rindu dengan cara yang paling ikhlas merelakan sambil berharap.
Libur mereka 14 hari.
Tiga ratus Tiga puluh enam jam kehidupan. Bagi sebagian orang, itu hanya angka. Namun bagi orang tua, itulah waktu yang ditunggu dengan doa, disiapkan dengan rindu, dan sering disambut dengan air mata yang ditahan.
Ayah dan ibu yang kami hormati, mungkin anak-anak kita tidak selalu pandai mengucap terima kasih. Kata-kata mereka sering pendek,
tetapi rindu mereka panjang. Berilah mereka ruang untuk hadir
duduk di dekat, membantu tanpa diminta, menjadi anak bukan hanya tamu yang pulang.
Di pondok, kami menyebut libur dengan kata *roḥah.* Namun para ulama mengingatkan dengan kalimat yang lembut tapi tajam:
الرَّاحَةُ فِي تَبَادُلِ الأَعْمَالِ
*Istirahat itu bukan meninggalkan amal, tetapi mengganti amal.*
Artinya, libur bukan jeda dari nilai. Ia justru ujian paling jujur. Apakah adab dan akhlak itu benar-benar hidup,
atau hanya ada karena diawasi.
Jika di rumah anak-anak kita tetap shalat tepat waktu, tetap berusaha berjamaah, tetap bangun pagi meski tak ada bel pondok, maka bersyukurlah dalam diam. Pendidikan itu sedang tumbuh.
Namun jika adab mulai luruh, disiplin mengendur, dan ibadah menjadi longgar, jangan tergesa menyalahkan mereka. Mendidik adalah perjalanan panjang, yang menuntut kesabaran, teladan, dan doa yang tidak putus.
Anak-anak ini adalah amanah. Hari ini mereka berada di pondok, hari ini pula mereka kembali ke pangkuan rumah. Kelak, mereka akan berjalan sendiri
membawa nilai yang kita tanam atau yang kita lewatkan.
Kami di pondok menunggu mereka kembali. Bukan hanya tubuhnya, tetapi hatinya yang lebih matang, akhlaknya yang lebih halus, dan kesadarannya yang lebih dewasa.
Jika nanti ayah dan ibu mengantar mereka kembali ke pondok
dengan tangan yang berat melepaskan, ketahuilah:
kami menerima anak-anak itu dengan doa, sebagaimana dulu ayah dan ibu menitipkannya dengan air mata.
Dan jika tulisan ini membuat dada terasa sesak, mata berkaca,
atau hati teringat hal-hal yang belum sempat diucapkan kepada anak,
jangan menahannya.
Karena cinta orang tua
sering bekerja dalam diam dan keikhlasan.
Terima kasih telah mempercayakan amanah ini kepada kami. Doa kami menyertai ayah dan ibu, sebagaimana doa ayah dan ibu menjadi cahaya bagi langkah anak-anak kita.
