Kita menangis hari ini

 


Kita menangis hari ini

bukan karena video itu terlalu dramatis, tetapi karena hidup tiba-tiba terlihat telanjang.

Air itu naik pelan-pelan, lalu menghapus satu per satu, rumah yang dibangun dari keringat,

foto keluarga yang disimpan bertahun-tahun, tempat pulang yang dulu selalu menenangkan.

Mereka tidak kehilangan barang. Mereka kehilangan kenangan.

Seorang ibu menangis sambil memeluk anaknya, bukan karena sekedar lapar, tetapi karena tak tahu harus pulang ke mana. Seorang ayah terdiam,

karena harga dirinya hanyut lebih dulu

sebelum air benar-benar surut.

Dan kita…

yang menonton dari balik layar kering,

tiba-tiba sadar, betapa tipis jarak antara punya segalanya dan tak punya apa-apa.

Allah seakan berbisik pelan tapi menghantam,

“Beginilah manusia ketika semua sandaran dicabut.”

Hari ini mereka seperti bayi, lahir kembali tanpa rumah, tanpa tabungan,

  • tanpa peta masa depan.
  • Jika dada kita sesak,
  • biarkan air mata jatuh.
  • Mungkin itu cara Allah
  • membersihkan kesombongan kecil
  • yang diam-diam kita simpan.

Dan jika kita masih punya selimut hangat malam ini, masih bisa memeluk keluarga,

masih bisa menghela napas tanpa rasa takut,

jangan tanya kenapa mereka, tapi bertanyalah dengan gemetar:

“Seandainya itu aku?”

Lalu, sebelum tidur,

ulurkan apa pun yang masih kita punya, doa, empati, harta,

atau sekadar kesediaan untuk peduli.

Karena ketika air naik,

yang menyelamatkan manusia bukan rumah yang tinggi, tetapi hati yang saling menolong.

ORANG DALAM

​Selamat datang di laman digital saya. Blog ini merupakan ruang berbagi pemikiran, pengalaman, dan catatan harian seputar [Dunia Pendidikan Pesantren]. Saya berharap setiap tulisan di sini dapat memberikan manfaat, inspirasi, atau setidaknya sudut pandang baru bagi Anda. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak