Pendidikan dan Pengajaran
Pondok Nurul Haramain tidak hanya mementingkan pengajaran saja atau pendidikannya saja.
Tapi dua-duanya dipentingkan, tapi jika harus dipilih mana salah satu diantara keduanya maka pondok
akan memilih pendidikan dari pada pengajaran. Orang boleh kurang ilmu, tapi tidak boleh kurang akhlaknya. Orang boleh memiliki nilai Aqidah Akhlak 9 di raport tapi, belum tentu kesahariannya punya
akhlak yang baik. Santri Nurul Haramain tidak apa-apa nilai raportnya kurang bagus, tapi prilakunya,
tutur katanya dan tindak tanduknya harus mencerminkan kebaikan, harus mencerminkan orang yang
berpendidikan.
Arah Tujuan pendidikan pondok:
A. Kemasyarakatan
Segala apa yang sekiranya dialami oleh santri kita di masyarakat, itulah yang dididikan oleh
pondok kepada meteka. Segala tindakan dan pelajaran, bahkan segala gerak gerik yang ada di
pondok ini, semuanya akan ditemui dalam perjuangan hidup dalam masyarakat. Pendeknya tidak
terlalu mementingkan atau mengingat apa yang harus dipelajari diperguruan tinggi kelak, tetapi selalu
mengingat apa yang akan ditemui dalam masyarakat nanti. Mereka mampu jadi imam, mampu
canggung untuk menjadi pengurus organisasi atau kepanitiaan-panitian dalam masyarakatnya nanti.
B. Hidup Sederhana
Mengingat beberapa faktor pendidikan jasmani dan rohani, fisik dan jiwa, maka penting
sekali kita semua ini dibiasakan atau dididik sederhana, makan, tidur, pakaian, hiburan, yang tidak
mengganggu kesehatan jasmani dan rohani kita.
Sederhana tidak berarti miskin, dan tidak berarti mendidik atau mengajak miskin, bahkan
sebaliknya.
Sederhana adalah tiang keselamatan hidup dalam masyarakat dan dunia umumnya. Sederhana
dapat menghadirkan penghidupan yang jujur serta bersih. Sebaliknya hidup mewah yang tidak
mengenal batas, mudah terpengaruh ajakan setan dan iblis yang selalu mengajak ke arah kejahatan
dan menyebabkan orang lupa kepada rasa kemanusiaan, rasa tanggung jawab dan rasa syukur.
Itulah sebabnya kita semua dididik untuk hidup sederhana. Diantara kesederhanan itu adalah:
1. Makanannya.
Makanannya disesuaikan dengan kebutuhan badan kita, tidak juga selalu tempe saja atau telur saja atau dagingnya terlalu banyak. Semua disesuaikan.
2. Pakaian
Pakaian harus sederhana, tidak terlalu mencolok, tidak kotak-kotak, yang penting
bersih dan suci. Tidak usah memakai cow boy dan napoleon, kita tidak mau kembali ke
zaman jahiliah, standarnya adalah ( َضمير ) hati kecil, tanyakan pada dhomir masingmasing
3. Potongan Rambut.
Rambutnya tidak terlalu panjang apalagi gondrong, potongannya tidak neko-neko
supaya diperhatikan orang, orang yang minta perhatian dengan cara begitu bertanda dia
tidak percaya diri, tidak berani jadi dirinya sendiri, bertanda anak yang masih labil.
Pakaian harus sederhana, tidak terlalu mencolok, tidak kotak-kotak, yang penting
bersih dan suci. Tidak usah memakai cow boy dan napoleon, kita tidak mau kembali ke
zaman jahiliah, standarnya adalah ( َضمير ) hati kecil, tanyakan pada dhomir masingmasing
3. Potongan Rambut.
Rambutnya tidak terlalu panjang apalagi gondrong, potongannya tidak neko-neko
supaya diperhatikan orang, orang yang minta perhatian dengan cara begitu bertanda dia
tidak percaya diri, tidak berani jadi dirinya sendiri, bertanda anak yang masih labil.
C. Tidak berpartai.
Pelajaran dan pendidikan di pondok Haramain sama sekali tidak ada hubungannya dan
sangkut pautannya dengan suatu partai tertentu. Jika ada unsur pimpinan dan pengurus yang
ketepatan menjadi anggota partai, maka pondok tidak boleh dibawa ke partai, atau partai dibawa ke
dalam pondok.
D. Tujuan ke pondok ialah: Ibadah Tholabul Ilmi. Bukan untuk menjadi pegawai
Pondok bukan mendidik santrinya agar supaya menjadi pegawai, tetapi mengajarkan agar
supaya santrinya giat dalam tholabul ilmi dengan suci, ibadah memenuhi perintah agama.
Tentang nanti dapat menjadi pegawai atau tidak sama sekali tidak jadi fikiran atau
perhitungan. Bahkan diharapkan agar para santri dapat menjadi orang yang mampuh memimpin suatu
usaha atau organisasi, atau dapat memimpin temen-temannya dan masyarakatnya yang menghajatkan
pikirannya, sukur-sukur mampu menjadi orang yang puya pegawai(wiraswata). Tetapi menjadi
apapun mereka nanti mereka harus tetap sadar bahwa mereka santri, dimana saja mental santrinya
harus tetap dibawa. Dengan demikian, nilai-nilai kejujuran, tanggungjawab, keikhlasan tetap dibawa
sampai mati.