Pondok Tidak Akan Mati
Sehari setelah santri pulang ke rumah masingmasing, pondok terasa lengang. Langkah-langkah kecil yang biasa berkejaran menuju kelas menghilang. Suara hafalan berhenti sementara. Namun pondok tidak akan mati. Ia hanya sedang menunduk, menarik napas panjang.
Setiap pagi, ustadzah-ustadzah tetap berkeliling. Masuk ke kelas-kelas yang kosong. Menyapu lantai yang kemarin dipijak kaki-kaki pencari ilmu. Membersihkan papan tulis yang masih menyimpan bekas ayat, rumus, dan cita-cita. Tak ada santri yang melihat, namun amanah tetap dikerjakan.
Libur bukan berarti santai lepas dari segala aktivitas. Libur adalah ujian kesetiaan. Apakah kita tetap merawat ketika tak ada yang menyapa, tetap bekerja ketika tak ada yang memuji. Di situlah pondok diuji, bukan saat ramai,
tetapi saat sepi.
Pondok tidak akan mati karena ia hidup dari niat. Ia berdiri di atas doa, bertahan oleh keikhlasan, dan dirawat oleh tangan-tangan yang bekerja tanpa suara. Di saat santri beristirahat, pondok sedang menjaga dirinya sendiri.
Dan kelak, ketika santri kembali, mereka akan masuk ke ruang yang bukan hanya bersih, tetapi telah disiapkan oleh cinta, oleh zikir yang tak bersuara, oleh pengabdian yang tidak pernah libur.
Oleh: ustadz H. Ahmad Dahlan
