Menyapu Waktu, Meraih Berkah
Setiap orang diberi jatah waktu yang sama: dua puluh empat jam sehari. Tidak ada perbedaan antara yang bodoh dan yang pintar, antara yang miskin dan yang kaya. Yang membedakan hanyalah satu, apa yang dilakukan dengan waktu itu.
Ada waktu yang habis untuk mengeluh, ada waktu yang habis untuk menunda, dan ada waktu yang diubah menjadi ibadah, meski hanya dengan sapu di tangan.
Di pondok, waktu tidak selalu berbentuk duduk di kelas atau membaca kitab. Kadang ia menjelma menjadi menyapu halaman, mengumpulkan daun, membersihkan kelas yang saat santri libur.
Di mata dunia, itu pekerjaan biasa. Di mata orang beriman, itu konversi waktu menjadi amal jariyah.
Para ulama berkata:
الوقت أثمن من الذهب
Waktu lebih mahal dari emas.
Maka ketika waktu pagi digunakan untuk menyapu pondok, sesungguhnya kita sedang menukar waktu mahal dengan kebersihan, ketertiban, dan keberkahan.
Allah bersumpah dengan waktu:
Ùˆَالْعَصْرِ
Demi masa.
Seakan Allah mengingatkan, waktu yang dibiarkan kotor akan berbau lalai, tapi waktu yang dipakai membersihkan lahir dan batin, akan bercahaya.
Sapu yang digerakkan dengan niat, bisa menjadi saksi di hadapan Allah. Lantai yang bersih, kelas yang rapi, halaman yang terawat, itu semua adalah jejak waktu yang tidak disia-siakan.
Barangkali menyapu pondok bukan hanya membersihkan debu,
tetapi sedang menyapu ego, membersihkan malas, dan melatih hati untuk siap menerima berkah.
Karena di pondok, waktu tidak diukur dari seberapa tinggi ilmu yang dibaca, tetapi dari seberapa ikhlas kita melayani kehidupan.
Dan kelak, ketika waktu benar-benar habis, semoga sapu-sapu kecil yang pernah kita ayunkan di pondok ini
menjadi saksi bahwa
kita pernah menghargai waktu dengan cara yang paling sederhana, namun paling jujur.
