Pejuang Sunyi Di Balik Asap Dapur

 Pejuang Sunyi Di Balik Asap Dapur

Setiap aku keliling pondok di pagi hari saya mencium harum nasi yang mengepul di balik dapur santri, dalam kesibukan santri yang berlarian menuju mushola dan Aula, ada beberapa sosok yang nyaris luput dari perhatian: budapur santri. Mereka tak pernah berdiri di mimbar, tak pernah terdengar namanya disebut dalam doa santri, apalagi disorot kamera. Tapi justru karena itu, amalnya terasa lebih jernih. Engkaulah wali tanpa gelar pejuang sunyi yang dicintai Allah.

Pagi-pagi sekali, sebelum azan subuh berkumandang, mereka sudah terjaga. Tak ada suara selain gemericik air dan denting panci. Ia membelah dinginnya pagi demi memastikan ratusan santri tak kelaparan. Tangannya sibuk, tapi hatinya berdzikir. Di antara irisan bawang dan adukan nasi, ia menanam pahala yang mungkin tak dipahami oleh orang-orang yang sibuk mengejar gelar dan panggung.

Budapur bukan hanya tentang memasak. Itu adalah ladang jihad. Bekerja dalam senyap, melayani dalam ikhlas, dan sabar menghadapi omelan atau makanan yang kurang garam. Tapi ia tetap sabar, tetap tersenyum, karena mereka tahu, setiap butir nasi yang masuk ke perut santri, jika diniatkan lillah, bisa menjadi jembatan ke surga.

Ibnu Atha’illah berkata, 

“Jika engkau tak dikenal di bumi, jangan risau. Pastikan engkau dikenal oleh langit.”

Maka budapur santri pun tidak risau. Ia tidak perlu sanjungan. Tidak perlu plakat penghargaan. Mereka cukup dikenal oleh langit. Cukup didengar oleh malaikat yang mencatat setiap tetes peluhnya sebagai amal.

Mereka mengajarkan kepada kita satu pelajaran besar: bahwa keikhlasan adalah kemuliaan. Bahwa tidak dikenal bukan berarti tidak mulia. Bahwa tidak memiliki gelar bukan berarti tidak punya kehormatan.

Bahkan, jika kita jujur, kita para guru yang siang malam mengajarkan ilmu belum tentu lebih mulia darinya. Sebab amal yang mereka lakukan terus-menerus, dengan sabar dan istiqamah, bisa jadi lebih berat timbangannya di sisi Allah dibanding ceramah atau tulisan-tulisan kita yang berserakan pujian.

Pondok ini berdiri bukan hanya karena ceramah dan kitab-kitab. Tapi juga karena ada budapur yang setia menyalakan api, mencuci panci, dan memastikan semua santri kuat belajar. Mereka adalah tulang punggung yang tak terlihat, tapi menopang seluruh bangunan pesantren.

Engkaulah wali tanpa gelar. Engkaulah pejuang yang tak bersorak. Tapi karena kaulah, santri bisa belajar. Karena kaulah, santri bisa kuat berdiri. Engkaulah guru yang tidak mengajar dengan lisan, tapi dengan keteladanan.


Oleh: Ustadz H. Ahmad Dahlan

ORANG DALAM

​Selamat datang di laman digital saya. Blog ini merupakan ruang berbagi pemikiran, pengalaman, dan catatan harian seputar [Dunia Pendidikan Pesantren]. Saya berharap setiap tulisan di sini dapat memberikan manfaat, inspirasi, atau setidaknya sudut pandang baru bagi Anda. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak