Sibuk Tapi Kosong
Kita hidup di zaman yang aneh.
Orang memegang gawai/Hp, duduk diam, tapi terlihat sibuk. Matanya menatap layar dengan intensitas tinggi. Jarinya bergerak cepat. Dahi kadang berkerut, kadang mengangguk pelan.
Kita yang melihatnya pun terkecoh: “Pasti orang ini sedang mengerjakan sesuatu yang penting.”
Padahal? Tidak.
Ia hanya sedang berpindah dari satu notifikasi ke notifikasi lain. Dari chat grup alumni yang tidak penting, ke status teman yang tidak dikenal. Dari video hiburan ke berita hoaks yang entah dari mana asalnya.
Kita telah menciptakan dunia di mana gerak jempol dianggap kerja keras, dan notifikasi dianggap pencapaian.
Padahal hidup tidak bergerak.
Tidak ada yang berubah.
Tidak pada dirinya, tidak pada sekitarnya.
Kosong, tapi kelihatan sibuk.
Inilah era ilusi aktivitas.
Kita terperangkap dalam kesibukan yang tidak produktif.
Lebih tepatnya: kita mencandu rasa sibuk, karena ia membuat kita merasa penting, padahal sesungguhnya kita sedang menghindar dari hidup yang sesungguhnya.
Coba kita renungkan:
Berapa banyak hari berlalu tanpa satu pun kebaikan nyata kita lakukan?
Berapa banyak percakapan terjadi, tapi tak satu pun memperdalam pemahaman kita?
Berapa banyak konten kita konsumsi, tapi tak satu pun mengubah cara berpikir kita?
Kiai-kiai dahulu membuka pagi dengan al-Fātiḥah.
Itu bukan sekadar bacaan, tapi deklarasi jiwa. Pengakuan tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana harus kembali.
Sekarang? Kita membuka hari dengan membuka HP. Kita lebih dulu menyapa dunia digital ketimbang menyapa Tuhan.
Maka jangan heran kalau hidup terasa hampa.
Sebab kita mengisi waktu dengan hal-hal yang tak berisi.
Kita merasa telah melakukan banyak, padahal tidak benar-benar hidup.
Al-Fātiḥah adalah panggilan untuk kembali.
Kembali hadir.
Kembali sadar.
Kembali menjadi manusia.
Oleh: Ustad H.Ahmad Dahlan