Sepeda Tua, Shalawat, dan Tangan-Tangan yang Penuh Harap


 Sepeda Tua, Shalawat, dan Tangan-Tangan yang Penuh Harap

    Setiap pagi, di sebuah jalan kampung yang menghubungkan Tanak Beak dan Lembuak, Narmada terdapat satu pemandangan yang tak bisa dihapus dari ingatan siapa pun yang pernah menyaksikannya. Seorang lelaki tua, berwajah teduh dan bersorban putih, mengayuh sepeda ontel dengan sabar. Seakan bukan dia yang mengayuh sepeda, tapi waktu yang sedang berjalan pelan lewat tubuhnya.

Itulah Tuan Guru Haji Muhammad Djuaini Mukhtar. Seorang alim yang tak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga menghidupkannya dalam langkah-langkah sederhana. Setiap pagi, beliau menempuh perjalanan untuk mengajar di madrasah yang beliau dirikan sendiri. Tapi sejujurnya, di jalan itulah pelajaran sesungguhnya dimulai. Pelajaran tentang adab, tentang cinta, tentang berkah.

Di sepanjang jalan, para ibu rumah tangga berdiri di tepi jalan, menunggu dengan sabar. Bukan karena ingin belajar fiqh atau nahwu sharaf, tapi karena mereka ingin bertemu, menyentuh tangan yang setiap harinya mengetuk pintu langit dengan doa. Mereka memanggil:

“Tuan Guru… ngendeng berkah…”

Dan Tuan Guru tidak sekadar menoleh. Beliau berhenti, benar-benar berhenti. Lalu turun dari sepeda tuanya. Di situlah letak pelajaran pertama: kehormatan manusia tidak di atas kendaraan, tapi di dalam kepekaan dan ketundukan hati.

Beliau berdiri tenang, menyalami para ibu satu per satu. Tidak tergesa, tidak menggampangkan. Setiap tangan yang menyentuh tangannya disambut dengan shalawat. Bukan shalawat yang dibaca keras-keras, tapi shalawat yang mengalir seperti air jernih dari hatinya.

Satu ibu, satu shalawat.

Begitulah beliau mengajar kami tentang cinta Nabi—bukan dari podium, tapi dari salaman yang ikhlas.

Di perempatan  Lembuak, para ibu menggandeng anak-anak mereka. Wajah anak-anak itu masih pagi, masih suci, belum ternoda urusan dunia. Mereka diajari oleh ibunya:

“Ngendeng berkah lek Tuan Guru… Besalam lek Tuan Guru… Adik sak jari kanak sak soleh…”

Tangan-tangan mungil itu pun mencium tangan beliau. Bukan hanya kulit yang disentuh, tapi ruh dan adab. Dan dengan lembut, Tuan Guru mengepalkan tangan lalu mengetuk pelan kepala mereka:

“Mudah-mudah jari anak sak rajin, sholeh kance bakti lek dengan toak.”

Itu bukan sekadar doa, itu adalah restu yang melahirkan generasi.

Berkah yang tidak bisa dicatat oleh pena, tapi ditanamkan di dada.

Sesampainya di pasar Narmada, pemandangan serupa terjadi. Para pedagang, bahkan yang sedang melayani pembeli, segera meninggalkan dagangannya. Mereka berlari kecil, menembus kesibukan, untuk mengejar berkah.

"Tuan Guru...ngendeng berkah

 Lagi-lagi, beliau berhenti, turun dari sepeda, dan menyambut satu per satu dengan tangan dan shalawat.

Tuan Guru tidak berdakwah dengan kata-kata tinggi. Tidak memberi petuah dengan ancaman atau dalil kaku. Tapi beliau berdakwah dengan tubuhnya, dengan jeda langkahnya, dengan sepeda ontel tuanya. Dalam diam, beliau menjadi majelis. Dalam sabar, beliau menjadi madrasah.

Maka jika hari ini ada anak-anak Tanak Beak dan Lembuak yang bisa membaca Al-Qur’an dengan tartil, yang bisa menyebut nama Nabi dengan air mata, barangkali itu karena kepala mereka pernah disentuh oleh tangan seorang wali yang lewat di jalan kampung sambil membawa berkah dari langit, menyalurkan lewat jabat tangan dan sepeda tua.


Oleh: Ustad H.Ahmad Dahlan


ORANG DALAM

​Selamat datang di laman digital saya. Blog ini merupakan ruang berbagi pemikiran, pengalaman, dan catatan harian seputar [Dunia Pendidikan Pesantren]. Saya berharap setiap tulisan di sini dapat memberikan manfaat, inspirasi, atau setidaknya sudut pandang baru bagi Anda. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak