Lapangan Kecil, Jiwa Besar
Malam itu saya melihat anak-anak santri bermain futsal. Lapangan kecil. Sempit. Bahkan mungkin kalau diukur, itu bukan lapangan, tapi hanya ruang kosong yang disepakati bersama sebagai tempat bermain. Tapi siapa bilang yang sempit tidak bisa melahirkan kelapangan jiwa?
Santri-santri itu membentuk tiga tim. Lima orang per tim. Mereka tidak punya pelatih, tidak punya wasit, tapi mereka punya sesuatu yang lebih penting: musyawarah. Mereka duduk bareng, ngobrol, lalu sepakat: dua tim main duluan, satu tim menunggu. Yang kalah keluar. Yang menang tetap. Tapi uniknya, yang menang juga tidak pongah, karena setiap gol berarti pertukaran. Yang kemasukan gol harus rela diganti. Dan semua patuh.
Kau tahu, di situ saya melihat sesuatu yang tidak ada di stadion besar. Di situ saya melihat komitmen. Saya melihat sportifitas. Anak-anak ini tidak ada yang ngotot. Tidak ada yang merengek ingin tetap main. Mereka tahu giliran. Mereka tahu aturan. Mereka tahu kebersamaan itu bukan tentang siapa yang menang, tapi tentang bagaimana semua merasa senang.
Lalu saya berpikir: futsal itu bukan sekadar olahraga. Itu cara hidup. Itu kebijaksanaan kecil yang muncul dari hati yang besar. Anak-anak ini tidak sedang sekadar menendang bola. Mereka sedang menendang ego, sedang mengoper kesedihan mereka, sedang menggiring rasa rindunya kepada orang tua yang mungkin kirimannya belum datang. Dan di sela-sela lari mereka, tawa mereka meledak. Tawa yang bukan karena menang, tapi karena mereka lupa bahwa mereka sedang susah.
Lihatlah... orang dewasa kadang rapat berjam-jam tak kunjung mufakat. Tapi anak-anak ini cukup satu kesepakatan sederhana, dan semua taat. Di situ saya belajar, bahwa aturan tidak butuh otoritas, kalau hati sudah saling percaya.
Maka kalau ada yang bilang "Santri itu hanya bisa ngaji", saya ingin ajak dia duduk di pinggir lapangan kecil itu. Duduk diam. Lihat. Dengarkan. Karena di sana sedang berlangsung universitas kehidupan. Di sana sedang diajarkan matakuliah keikhlasan, etika sosial, logika kerendahan hati, dan strategi kebahagiaan dalam keterbatasan.
Lapangan kecil itu mungkin tidak bisa mengundang sponsor. Tapi dia telah menjadi saksi bagaimana anak-anak muda belajar menjadi manusia. Tanpa kurikulum. Tanpa sertifikat. Tapi dengan hati.
