Menyapa dengan Hadir, Mendoakan dengan Sunyi


Menyapa dengan Hadir, Mendoakan dengan Sunyi

Lakukan Spiritualitas Pagi di Pondok Pesantren

Setiap sebelum Subuh, aku berjalan mengelilingi pondok. Bukan untuk memeriksa, bukan pula untuk memastikan semuanya rapi. Tapi untuk menyapa. Menyapa para santri bukan dengan lisan, tapi dengan kehadiran. Menyapa langit dengan munajat yang diam. Mohon berkah, mohon rahmat, untuk pondok, untuk santri, untuk siapa saja yang Allah titipkan di rumah pendidikan ini.

Dari arah brugak sholahuddin, empat santri kelas dua berlari kecil. Mereka mencegatku, lalu mengulurkan tangan, mencium tanganku. Seraya berkata, “Mamik tidak sendirian. Kami habis tahajjud, minta berkah juga, untuk kami, untuk orang tua kami, untuk pondok ini, dan untuk guru-guru kami.”

Aku diam. Hatiku menjawab lebih dulu dari mulutku. Bahagia, bukan karena dipuji atau dihormati. Tapi karena ada jiwa-jiwa muda yang mulai memahami bahwa pondok ini bukan sekadar tempat tidur dan belajar. Tapi tempat menyambung hidup dengan langit.

Santri, Pengurus, dan Panggilan Pagi

Aku lanjutkan langkah. Keliling lagi. Tiga, empat kali putaran. Santri mulai bangun. Pengurus asrama mulai berkeliling, mengetuk pintu-pintu kamar. Ada yang membisik pelan pada kawannya, “Mamik, mamik Dahlan... Ayo bangun.”

Entah kenapa aku tidak merasa mereka memanggilku. Tapi lebih seperti mereka sedang memanggil kesadaran mereka sendiri. Kesadaran bahwa pagi harus dimulai dengan ibadah, dengan berkumpul di bawah mihrab Allah, bukan hanya di bawah langit-langit kamar.

Beberapa santri berlari kecil menuju mushalla, dan Aula, Ada yang menyambar sarung sambil masih menyeka mata. Aku hanya terus berjalan. Dan setelah cukup, aku duduk. Di kursi bambu di garasi motor. Kursi itu menjadi tempatku bertafakur. Memohon ampun. Untuk diriku, untuk keluargaku, untuk mereka yang Allah tempatkan di atas pundakku: guru, santri, dan semua yang menunggu berkah dari Allah lewat jalur pendidikan ini.

Menunggu Subuh, Menanti Ampunan

Hari itu, Kamis, 8 Mei 2025. Aku duduk di kursi bambu itu. Diam. Mendengar detak jantung sendiri dan nyanyian sunyi dari langit yang masih kelam. Menunggu adzan subuh, bukan sekadar menanti waktu salat, tapi menunggu pintu-pintu ampunan dibuka. Aku berharap, semoga di antara doa-doa pagi ini, Allah turunkan keberkahan untuk yang berjalan, yang tidur, yang membangunkan, dan yang mendoakan.

Pagi ini, aku merasa, bukan aku yang menyapa mereka. Tapi merekalah yang sedang menyapa hatiku bahwa perjuangan ini belum selesai, bahwa pondok ini sedang tumbuh, perlahan, dengan berkah dan cinta.

Oleh:  Ustad H.Ahmad Dahlan

ORANG DALAM

​Selamat datang di laman digital saya. Blog ini merupakan ruang berbagi pemikiran, pengalaman, dan catatan harian seputar [Dunia Pendidikan Pesantren]. Saya berharap setiap tulisan di sini dapat memberikan manfaat, inspirasi, atau setidaknya sudut pandang baru bagi Anda. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak