Mengharamkan Game demi Visi Pendidikan Haramain

Mengharamkan Game demi Visi Pendidikan Haramain

Baik, Benar, Indah, Bermanfaat, dan Makmur-Memakmurkan

Dalam rapat bulansn tanggal 26 januari 2026 ditegaskan oleh TGH. KHAIRI HABIBULLAH selaku pimpinan pondok, bahwa:  Haramain mengharamkan game, bukan karena ketakutan pada teknologi, tetapi karena pesantren ini berdiri di atas sebuah visi pendidikan: melahirkan manusia yang hidupnya baik, jalannya benar, jiwanya indah, ilmunya bermanfaat, dan kehadirannya memakmurkan.

Visi ini bukan hiasan dinding. Ia harus hidup dalam kebijakan, disiplin, dan pilihan-pilihan kecil yang dijalani santri setiap hari.

Baik, artinya apa yang dilakukan santri menumbuhkan karakter, bukan sekadar kesenangan. Banyak game melatih reaksi cepat, tetapi sedikit yang melatih kesabaran, tanggung jawab, dan kejujuran. Ketika waktu habis tanpa pertumbuhan, kebaikan tidak sedang tumbuh.

Benar, artinya selaras dengan tujuan penciptaan manusia. Santri diciptakan untuk belajar, beribadah, dan berkhidmat. Aktivitas yang menjauhkan dari tujuan ini, meski tampak sepele, pelan-pelan membelokkan arah hidup. Pesantren tidak boleh membiarkan penyimpangan kecil menjadi kebiasaan besar.

Indah, karena pendidikan sejati membentuk kehalusan jiwa. Keindahan lahir dari keteraturan, kesungguhan, dan adab. Game sering menghadirkan kegaduhan batin, emosi meledak-ledak, dan ketagihan yang merusak ketenangan. Jiwa yang gaduh sulit memantulkan keindahan akhlak.

Bermanfaat, sebab ilmu dan waktu harus berbuah. Pesantren mengajarkan santri untuk bertanya: apa manfaat dari yang aku lakukan hari ini? Jika sebuah aktivitas tidak menambah ilmu, tidak menguatkan iman, dan tidak memperbaiki akhlak, maka ia patut ditinggalkan, meski sedang populer.

Dan akhirnya, makmur-memakmurka, Santri Haramain disiapkan bukan hanya untuk sukses secara pribadi, tetapi untuk menjadi sumber kehidupan bagi sekitarnya. Makmur bukan soal banyak hiburan, tetapi kemampuan mengelola diri, waktu, dan potensi. Orang yang tidak mampu menguasai waktunya sendiri, sulit diharapkan mampu memakmurkan orang lain.

Karena itu, larangan game di Haramain adalah bagian dari tata nilai, bukan sekadar tata tertib. Ia adalah ikhtiar agar santri tumbuh utuh: pikirannya jernih, waktunya terjaga, dan cita-citanya tidak terkikis oleh kesenangan sesaat.

Pesantren tidak sedang mencetak pemain, tetapi pelaku sejarah. Bukan pencari level, tetapi penjaga nilai. Bukan penghabis waktu, tetapi pemakmur kehidupan. Dan di situlah makna kebijakan ini diletakkan: demi visi yang baik, benar, indah, bermanfaat, dan makmur-memakmurkan.

ORANG DALAM

​Selamat datang di laman digital saya. Blog ini merupakan ruang berbagi pemikiran, pengalaman, dan catatan harian seputar [Dunia Pendidikan Pesantren]. Saya berharap setiap tulisan di sini dapat memberikan manfaat, inspirasi, atau setidaknya sudut pandang baru bagi Anda. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak