Pendidikan Antara Pembiasaan, Penyadaran, dan Keterpaksaan
Pendidikan sejatinya adalah seni menanamkan nilai. Ia tidak sekadar mengisi pikiran dengan pengetahuan, tetapi juga membentuk kebiasaan dan membangunkan kesadaran.
Ada tiga wajah pendidikan yang sering kita jumpai.
1. Pertama, pendidikan sebagai pembiasaan.
Anak diajak melakukan hal-hal baik secara berulang: shalat berjamaah, disiplin waktu, menjaga kebersihan, berkata sopan. Namun, pembiasaan yang tidak disertai pemahaman mudah menjadi rutinitas kosong. Ia dilakukan sekadar karena “begitulah aturan pondok.”
2. Kedua, pendidikan sebagai penyadaran.
Inilah inti dari tarbiyah. Kebiasaan baik yang ditanamkan diberi ruh makna, sehingga anak paham mengapa ia harus disiplin, untuk apa ia harus shalat berjamaah, dan apa makna menjaga kebersihan. Kesadaran inilah yang menumbuhkan keikhlasan.
3. Ketiga, pendidikan sebagai keterpaksaan.
Jika pembiasaan tidak ditopang oleh penyadaran, ia akan mudah pudar. Begitu jauh dari pengawasan, anak kembali pada kebiasaan lama. Rutinitas yang dipaksakan akan hilang begitu saja, sebab ia tidak tertanam dalam jiwa.
Di pondok, keseimbangan antara pembiasaan dan penyadaran menjadi kunci. Pembiasaan adalah pagar, penyadaran adalah cahaya. Tanpa pagar, anak bisa terlepas ke mana saja; tanpa cahaya, ia akan berjalan dalam gelap.
Mari kita lihat contoh keseharian santri.
Shalat berjamaah: Awalnya mungkin karena aturan pondok, semua santri berbaris menuju masjid. Tetapi jika guru-guru memberi penyadaran bahwa shalat berjamaah adalah warisan Rasulullah ï·º dan sumber kekuatan umat, maka jamaah itu tidak sekadar aturan, melainkan kebutuhan ruhani.
Disiplin bahasa: Di banyak pondok, santri diwajibkan berbahasa Arab atau Inggris. Jika hanya karena takut dihukum, santri akan kembali ke bahasa sehari-hari begitu keluar pondok. Tetapi bila ditanamkan kesadaran bahwa bahasa adalah pintu ilmu dan dakwah, maka ia akan menjadi kebanggaan, bukan beban.
Belajar dan membaca: Jam belajar malam kadang terasa berat. Namun, jika guru menanamkan kesadaran bahwa ilmu adalah cahaya dan bekal hidup, maka santri belajar bukan karena takut ustadz berkeliling, melainkan karena hatinya rindu pada ilmu.
Kebersihan dan kerapian: Santri bisa saja membersihkan kamar hanya karena ada jadwal piket. Tapi bila diberi penyadaran bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, maka ia akan menjaga kerapian bukan karena aturan, melainkan karena keyakinan.
Karena itu, pendidikan tidak boleh berhenti pada kebiasaan luar. Ia harus menembus ke dalam hati, menyalakan kesadaran, hingga kebiasaan itu menjadi kebutuhan batin. Dengan begitu, kebiasaan baik tidak akan pudar, bahkan justru tumbuh menjadi karakter yang kokoh.
