Syahadat dan Duduk Tahiyat Akhir
Ketika kita duduk tahiyat akhir,
tubuh kita diam,
gerak berhenti,
dan perjalanan sholat hampir selesai.
Di situlah syahadat diucapkan kembali.
wa asyhadu anna Muḥammadar rasūlullāh.”
Syahaat bukan sekadar kalimat.
Ia adalah kesaksian terdalam hati.
_Lalu di mana wujud Allah ketika kita bersaksi?
Allah tidak duduk di depan kita,
tidak di kanan atau kiri kita,
tidak di langit sebagai tempat,
dan tidak di bumi sebagai arah.
Karena Allah tidak bertempat.
Namun Allah hadir
melalui:
* kesadaranmu,
* ketundukan hatimu,
* dan kefakiran ruhmu.
Yang menyaksikan Allah bukan mata,
tetapi rasa.
Saat duduk tahiyat akhir:
* kaki dilipat → tanda dunia telah ditinggal,
* tangan di paha → tanda menyerah,
* tubuh tenang → tanda siap pulang.
Syahadat di sini berarti:
"Ya Allah, aku telah berjalan dengan syariat,
aku belajar memahami hakikat,
dan kini aku bersaksi:
tiada daya, tiada wujud hakiki selain Engkau.”
Nabi Muhammad Saw. disebut setelah Allah,
karena tidak ada jalan mengenal Allah
tanpa mengikuti jalan Rasul-Nya.
Maka tahiyat akhir adalah:
dan latihan kematian yang penuh cinta.
Karena suatu hari nanti,
kita akan duduk tanpa bangkit lagi,
dan syahadat itu
menjadi ucapan terakhir sebelum bertemu Kekasih.
Jika syahadatmu hidup di tahiyat akhir,
maka hidupmu akan terarah.
Jika hatimu bersaksi,
jasad tak lagi sibuk mencari selain Allah.
