Pesantren Itu Kayak Sepeda (Versi Guru Beling)


 Pesantren Itu Kayak Sepeda (Versi Guru Beling)

Suatu hari Guru Beling lagi ngopi di teras pesantren. Lewat rombongan gowes. Ada yang sepedanya mahal kayak motor, ada yang bunyinya kriet-kriet tiap dikayuh.

Guru Beling nyeletuk,

_“Itu yang sepedanya 200 juta, kalau jatuh… nangisnya pakai bahasa apa?”_

Santri ketawa. Tapi Guru Beling lanjut serius-serius santai.

Coba perhatikan pesepeda. Aneh-aneh tapi lucu.

Ada yang pakai sepeda gunung, badannya kotor lumpur tapi mukanya bahagia. Ada yang pakai road bike, bajunya ketat, ngos-ngosan tapi gaya. Ada yang pakai sepeda kota, pelan-pelan, berhenti di lampu merah sambil senyum. Ada juga yang pakai sepeda ekstrem, lompat-lompat kayak dikejar setan.

Kalau ditanya satu-satu:

_“Ngapain sih gowes?”_

Jawabannya hampir sama:

_“Biar sehat.” “Biar panjang umur.” “Biar nggak gampang mati muda.” “Biar bisa main sama cucu.”_


Guru Beling manggut-manggut.

_“Nah itu. Tujuannya sama. Yang beda cuma gaya ngos-ngosannya.”_

Itulah yang orang pinter bilang WHY.

Alasan paling dasar kenapa orang melakukan sesuatu. Mau sepedanya mahal atau murah, mau gowesnya ngebut atau santai, WHY-nya sama: sehat.

Yang beda itu *HOW-nya.*

Yang suka nanjak bilang,

_“Capek itu nikmat.”_ Yang suka turunan bilang, _“Yang penting deg-degan.”_ Yang suka aspal bilang, _“Yang penting cepet dan kinclong.”_ Yang santai bilang, _“Yang penting sampai, nggak perlu gaya.”_

Guru Beling nyeletuk lagi,

_“Semua benar. Kecuali yang gowes sambil pamer tapi nggak pernah turun dari mobil.”_

Nah, pesantren itu persis kayak sepeda.

- Ada pesantren yang kitabnya tebal-tebal, ngajinya pelan, tapi dalem. Kayak sepeda tua. Pelan, tapi sampai.

- Ada pesantren yang modern, rapi, adaptif. Kayak sepeda hybrid.

- Ada pesantren yang bahasanya langsung Arab-Inggris. Kayak sepeda balap. Baru naik, langsung ngebut.

- Ada pesantren kecil di kampung, sederhana, tapi kuat. Kayak sepeda BMX. Kecil-kecil tapi tahan banting.

Beda semua? Iya.

Ribut? Harusnya nggak.

Karena WHY-nya sama:

- Tafaqquh fi al-din. Mendalami agama.

- Bikin manusia yang ngerti Allah, ngerti hidup, dan nggak ngawur.


Guru Beling bilang,

_“Pesantren nggak pernah krisis identitas. Wong tujuannya jelas dari dulu.”_

Al-Qur’an sudah bilang sejak 14 abad lalu.

- Nggak pakai update.

- Nggak pakai revisi.

- Nggak perlu ganti menteri.


Beda sama pendidikan yang tiap ganti pejabat, arah ikut muter.

_“Ini kayak orang gowes tapi tiap 5 menit ganti sepeda, ganti rute, ganti tujuan. Ya capek, Nak. Sampainya entah ke mana.”_

Pelajarannya apa?

- Pertama, yang penting bukan sepedanya, tapi mau ke mana.

- Kedua, jangan ribut soal cara. Yang penting tujuan sama.

- Ketiga, yang bikin kuat itu bukan seragam, tapi kompas.

Guru Beling nutup sambil ngopi,

_“Kalau kamu lihat pesantren lain kok caranya beda, jangan langsung nyinyir. Bisa jadi dia pakai sepeda jenis lain.”_

Yang penting:

- sama-sama jalan,

- sama-sama mengayuh,

- dan sama-sama ingin sampai…

Bukan ke podium. Bukan ke wisuda. Bukan ke gelar panjang di belakang nama.

Tapi ke satu tujuan:

Ridha Allah.

Guru Beling senyum,

_“Kalau jatuh di jalan, ya bangun lagi. Namanya juga belajar naik sepeda kehidupan.”_

ORANG DALAM

​Selamat datang di laman digital saya. Blog ini merupakan ruang berbagi pemikiran, pengalaman, dan catatan harian seputar [Dunia Pendidikan Pesantren]. Saya berharap setiap tulisan di sini dapat memberikan manfaat, inspirasi, atau setidaknya sudut pandang baru bagi Anda. Terima kasih telah meluangkan waktu untuk berkunjung

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak