Suara Hati Seorang Guru di Hadapan Hukum dan Tuhan
Yang Mulia Hakim,
Yang saya hormati para jaksa, penegak hukum, dan seluruh hadirin yang hadir di ruang ini,
Izinkan saya berbicara hari ini bukan untuk membantah hukum, tapi untuk menyampaikan isi hati seorang guru yang mungkin tak sanggup dijelaskan dengan bukti atau pasal.
Saya berdiri di sini bukan untuk membela diri dari tuduhan, tetapi untuk membela makna dari profesi yang mulia ini, profesi guru.
Yang Mulia
Sejak awal saya memilih jalan ini bukan karena gaji, bukan karena kemewahan, tapi karena saya ingin berkhidmat. Saya ingin menjadi bagian kecil dari perjuangan menyalakan cahaya di tengah gelapnya zaman. Saya ingin anak-anak bangsa tumbuh menjadi generasi yang kuat, beriman, dan beradab.
Namun, mendidik tidak selalu mudah. Ada hari-hari di mana guru harus menjadi keras demi cinta, karena jika semua serba lembut, nilai dan batas akan hilang. Ada waktu di mana teguran harus terdengar pahit, karena hanya dengan rasa pahit itulah jiwa akan belajar tentang manisnya kebenaran.
Saya tahu, dunia sekarang mudah salah paham. Teguran disebut kekerasan, disiplin disebut penindasan. Padahal, tidak ada cinta yang lebih tulus daripada cinta yang berani menegur.
Yang Mulia
Saya tidak akan menyangkal bahwa saya pernah menghukum santri saya. Tapi izinkan saya bersaksi di hadapan Allah dan di hadapan Anda semua
bahwa tidak ada kebencian di dalam hati saya. Saya menghukumnya karena saya takut ia akan tersesat. Saya menegurnya karena saya ingin menyelamatkannya.
Saya tidak memukul karena marah, saya hanya ingin agar suatu hari nanti, ia tidak dipukul oleh kerasnya hidup yang jauh lebih kejam dari teguran seorang guru.
Bila karena itu saya harus diadili dan dihukum, saya akan menerimanya dengan sabar. Tapi izinkan saya mengingatkan dengan rendah hati:
jika guru tidak boleh menegur, jika setiap ketegasan harus digugat, maka siapa lagi yang akan menanamkan nilai dan disiplin kepada generasi ini?
Yang Mulia,
Saya belajar dari sejarah.
1. Nabi Yusuf ‘alaihissalam pernah dipenjara karena difitnah, tapi justru di sanalah Allah memuliakannya dengan kebijaksanaan.
2. Imam Ahmad bin Hanbal dicambuk dan dipenjara karena mempertahankan akidah.
3. Soekarno dan Hatta dikurung oleh penjajah karena mencintai bangsa ini.
Nelson Mandela menghabiskan 27 tahun di balik jeruji, tapi keluar dengan hati yang lapang dan jiwa yang bebas.
Mereka semua bukan penjahat, tapi orang-orang yang diuji karena kebenaran.
Dan kini, saya percaya meski ujian saya jauh lebih kecil, Allah sedang mengizinkan saya untuk merasakan sedikit dari jalan orang-orang sabar itu.
Yang Mulia
saya bukan malaikat, saya juga bisa salah. Tapi saya tidak pernah berniat jahat. Saya hanya ingin menjadi guru yang amanah,
guru yang kelak bisa menjawab di hadapan Allah:
“Ya Allah, aku sudah berusaha menjaga anak-anak ini dengan segala kemampuan dan keterbatasanku.”
Maka jika hari ini saya harus menghadapi ujian ini, saya menerimanya sebagai bagian dari takdir. Mungkin Allah ingin mengajarkan saya makna sabar yang lebih dalam. Mungkin Allah ingin menguji apakah saya masih bisa mendidik bukan hanya dengan lisan dan tindakan, tapi dengan keteladanan di tengah cobaan.
Yang Mulia
Saya tahu hukum harus ditegakkan.Tapi saya juga tahu keadilan tidak hanya hidup dalam pasal, keadilan juga bernafas dalam hati manusia yang jernih.
Dan saya percaya, hati Yang Mulia mampu melihat niat di balik perbuatan.
Saya tidak memohon belas kasihan. Saya hanya mohon, pahamilah niat seorang guru. Karena ketika guru kehilangan haknya untuk menegakkan nilai, maka anak-anak bangsa akan kehilangan arah masa depannya.
Orang hebat bukan diukur dari seberapa tinggi jabatannya, tapi seberapa teguh ia bertahan ketika kebenaran membuatnya terasing bahkan terpenjara.”
Jika saya harus melalui ini, semoga saya tetap bisa tersenyum. Dan semoga Allah SWT meneguhkan hati saya sehingga Saya tidak kapok menjadi guru, mengajar kesabaran pada diri sendiri, mengajarkan keteguhan melalui cobaan ini, dan meyakini bahwa setiap ujian dari Allah pasti membawa kemuliaan di ujung jalan.
Terima kasih, Yang Mulia.
Semoga Allah menurunkan rahmat dan keadilan di tempat ini. Dan semoga hati kita semua lembut seperti tanah yang siap menumbuhkan kebenaran
Oleh: Qutbi Asegaf Madani
